Berikut Ciri Kekerasan Verbal yang Sering Terjadi Dalam Rumah Tangga

Berikut Ciri Kekerasan Verbal yang Sering Terjadi Dalam Rumah Tangga

Berikut Ciri Kekerasan Verbal yang Sering Terjadi Dalam Rumah Tangga – Verbalisme berasal dari kata Latin, verbum yang berarti perkataan atau ucapan. Verbalisme dapat sekadar berarti sebagai ungkapan verbal (verbal expression), entah istilah untuk menyebut sesuatu, atau pengungkapan lewat kata-kata untuk mengungkapkan gagasan dan menyatakan pengertian.

Verbalisme juga dapat dipergunakan untuk menyebut tulisan atau uraian yang mempergunakan terlalu banyak kata, sedang isinya terlalu sedikit, tanpa isi atau terlalu sedikit, atau sama sekali tak menyentuh topik yang sedang dibicarakan, alias omong kosong. Tidak semua kekerasan atau pelecehan bersifat fisik. Nah, kekerasan verbal adalah kekerasan yang bersifat non fisik. Hal tersebut tanpa disadari sering di lakukan pada pasangan suami istri bahkan orang tua terhadap anak.

Ketika seseorang berulang kali mengucapkan kata-kata untuk merendahkan, menakut-nakuti, atau mengendalikan seseorang maka inilah yang di maksud dengan kekerasan verbal. Kekerasan verbal ini termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), lho. Kekerasan verbal tidak dapat diabaikan. Di lansir Healthyplace, efek psikologis di antaranya sulit tidur atau makan, depresi, stres, melukai diri sendiri, hingga bunuh diri.

1. Membantah
5 Ciri Kekerasan Verbal dalam Rumah Tangga, Kenali dan Jangan Abai!

Saat mengutarakan pendapat pada pasangan ia selalu membantah. Bantahannya berupa kata-kata yang menyudutkan atau membuat kecil hati.

Di lansir WebMD, membantah yang di tujukan untuk menyudutkan, menghina dan di lakukan secara berulang-ulang termasuk dalam pelecehan atau kekerasan verbal.

2. Selalu mengkritik
5 Ciri Kekerasan Verbal dalam Rumah Tangga, Kenali dan Jangan Abai!

Mengkritik untuk menuju kebaikan adalah hal positif apalagi di dalam rumah tangga. Namun ada pasangan yang selalu mengkritik yang bertujuan untuk mencari kesalahan, kelemahan, sehingga membuat kehilangan kepercayaan diri.

Di lansir Healthline, pasangan yang selalu mengkritik tanpa memberikan masukan dan jalan keluar, perlakuan tersebut adalah suatu kekerasan verbal. Maka setiap pasangan harus mengetahui jenis kritikan agar efek dari kritikan tersebut tidak menghilangkan rasa percaya diri yang merupakan kekerasan verbal.

3. Selalu menyalahkan
5 Ciri Kekerasan Verbal dalam Rumah Tangga, Kenali dan Jangan Abai!

Menyalahkan sering juga terjadi dalam rumah tangga. Misalnya, seorang suami yang mempunyai penghasil kecil, dengan marah-marah menyalahkan istri terlalu boros dan tidak keluar membantunya mencari uang.

Namun suaminya juga meminta agar istrinya tetap di rumah menjaga anak.
Perlakuan demikian termasuk kekerasan verbal. Karena menyakiti hati istri.

4. Menolak berbicara
5 Ciri Kekerasan Verbal dalam Rumah Tangga, Kenali dan Jangan Abai!

Saat terjadi pertengkaran di rumah suami atau istri memilih diam atau pergi dari rumah ketika di minta penjelasan. Hal ini di sebut silent treatment di mana bertujuan untuk membuat suami atau istri merasa tidak enak.

Di lansir MedicalNewsToday, perlakuan diam atau menolak untuk berbicara termasuk dalam pelecehan atau kekerasan verbal.

5. Perdebatan yang tidak berujung
5 Ciri Kekerasan Verbal dalam Rumah Tangga, Kenali dan Jangan Abai!

Berdebat dalam rumah tangga sering di lakukan. Jika perdebatan di lakukan secara berulang-ulang dan tidak berujung atau tidak ada penyelesaian maka hal ini masuk dalam kekerasan verbal.

Sejatinya dalam rumah tangga akhir dari suatu perdebatan antara suami istri ada jalan keluar yang di sepakati bersama. Pada perdebatan tak berujung antara suami istri ada yang selalu di salahkan.

Selain ciri di atas kekerasan verbal juga dapat secara halus. Misalnya, ketika seseorang berbicara nada halus hingga berbisik, namun di lakukan secara berulang-ulang. Dan bertujuan untuk membunuh karakter. Maka jika mengalami kekerasan verbal tersebut jangan ragu untuk mencari pertolongan agar terlindung dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Akan tetapi, verbalisme juga merupakan pendirian. Verbalisme lalu menjadi sikap yang lebih menjunjung tinggi kata daripada kenyataan yang diungkapkan, istilah daripada permasalahan yang ada di belakangnya, dan rumusan daripada kebenaran yang di kandungnya. Dengan sikap itu, penganut verbalisme memperlakukan kata lebih penting daripada kenyataan yang di ungkapkan.

Secara umum verbalisme dapat menjadikan kata, ungkapan, ucapan, sebagai hal atau entitas yang berdiri sendiri. Dalam dan dengan anggapan itu, orang sudah di anggap baik, loyal, terhormat, hanya karena kata-katanya yang bernada sedap, mendukung dan menyanjung, tanpa menyelidiki bagaimana perilaku yang sesungguhnya.

Sebaliknya orang sering kali di anggap jahat dan pengacau, hanya karena ucapan-ucapannya yang terus terang, berbeda dengan yang lazim dan kritis, meskipun perbuatan nyatanya sungguh membawa kebaikan bagi banyak orang.